Krisis Ek

•December 4, 2008 • 1 Comment

Masih mencari jawabannya akan peran aktif masyarakat dalam menyongsong era suram krisis finansial dunia. Coba kalau difikirkan apakah krisis ekonomi dunia ini :

  • Konsipirasi jew (banyak di internet)
  • Konspirasi pelemahan Cina dari sisi ekonomi dengan mengorbankan seluruh dunia, sehingga lebih mudah dikendalikan (Cina memang rada “bedegong” di mata US mah)
  • Memang waktunya untuk mencari sistem ekonomi baru, misalkan Syariah. Jadi inget salah satu bishop di UK yg mendukung ini langsung babak belur dipertanyakan keimanannya (coba googling di inet).

Yang jelas, saat ini keuangan dunia atau pribadi lagi menunggu kucuran “dana kambing Rp. 143 juta” yang tambah gak jelas.

Odong

•December 2, 2008 • Leave a Comment
Cape lihat si Dani bolak-balik terus di labumum, terus nggak ada gorengan panas lagi di hari dingin gini teh. Masih penasaran mencari solusi komunikasi yang murah, antara :
  • speedy office
  • speedy warnet
Jawabannya beda QOS untuk keduanya, antara 16KBps dan 32 KBps lumayan signifikan juga. Cuma harganya, masih cari cara pendanaan supaya sustain dulu selama 6 bulan layanan.

Masa hari gini koneksi internet pake yang kecepatannya odong-odong seperti yang ditawarkan oleh beberapa telco GSM. Coba baca *nya ada kata-kata “sampai batas …. wajar ” tanpa penjelasan nilai wajar itu berapa ?

Nah itu lah langganann internet odong-odong kalau dibatas (nggak ketahuan batas riilnya 2 – 10 GB data) sama setelah quota batas terlampaui jadi kecepatan berapa juga nggak jelas. Lihat paket dari beberapa telco GSM. Setelah quota pemakaian terlampaui maka kecepatan akan turun sampai … kbps, padahal iklannya HSDPA atau 3.5G. Contoh kasusnya :
Si Fulan langganan internet dari telco I dengan bayar 100 rebu dapet (misalkan 2GB quota) kecepatan HSDPA tapi setelah download dan berbagai aktivitas habislah quota-nya. Kecepatan akses si Fulan turun signifikan, walau di layar notebooknya tertulis signal HSDPA dengan kenyataan kecepatan sebesar (misalkan) 64kbps. Mulailah internet-nya jadi odong-odong ha ha ha.

IT dibangun

•December 1, 2008 • Leave a Comment

Sabtu, sore hujan menguyur kota Bandung, dan nampak di jendela. Ahh, setelah menyelesaikan pekerjaan #@123#121~# PHKi, saat nya istirahat sambil menunggu huja reda. Waktunya tidur sore, sebentar saja, cellphone mode silent.

Tiba-tiba telp ext 131 menyahut dan diseberang sana pak M meminta turun ke Lt1 yayasan. “Ada pembicaraan mengenai wireless” katanya, seraya masih ngantuk dan agak males akhirnya turun juga ke bawah.

Di ruangan rapat yayasan nampak beberapa orang dan semuanya sudah cukup dikenal, kecuali satu “siapa itu ?”. Paling orang bawaan lagi dari orang yayasan untuk meminta pendapatnya (ahli mungkin). Kemudian mulai-lah pembicaraan tentang wireless, nampak dimeja proposal pengembangan wlan buatan saya. Ohh, membicarakan proposal rupanya, (asyik jadi nih kerjaan). Tapi dalam perjalanan koq membicarakan apa bisa wlan lama dinyalakan kembali.

Jawaban moel sederhana : BISA !!!!!!, tinggal colokin kabel dan selesai. Gimana dengan kualitasnya tanya orang yayasan, jawabannya QOS sesuai dengan yang ada. Jangan harap lebih, serta kerumitan user akan tetap mulai dari konek wlan terus nyalain openVPN. Saya bilang, proposal saya akan menghilangkan kerumitan tersebut.

Terus sang ahli menanyakan kenapa harus menggunakan WDS, kenapa gak setiap AP langsung tarik kabel. Saya jawab “simpel dan nggak costly”, tapi dia tetap mengatakan bahwa WDS menurunkan bandwidth AP. Saya jawab “ya, tapi lihat dulu dari sisi user, apakah akan menggunakan seluruh bandwidth wlannya untuk internet ?, tentu saja tidak, lha wong bw inet cuma 2 Mbps sementara bw WLAN 54Mbps nah loh “.

Pembicaraan terus berlalu dan tidak banyak membahas tentng proposal, “ya sudahlah” dalam hati saya katakan proposal-ku sudah berakhir. Tapi minta bantuan saya untuk pemeriksaan wlan senin ini. Dalam hati “kerja terus, terus duitnya ?”. Ya saya bakal supervisi dengan sederhana saja alias cuma melakukan BCTTs atau “Bisa-nya Cuma Tunjak Tunjuk saja“, ha ha ha ha. Pak Moel kesana pasang Antenna dan wireless, saya tunggu disini saja (blulrl) ?

Pembicaraan berlanjut mengenai IT yang dulu saya pegang dikatakan bukan dibangun oleh orang IT. Lha saya bukan orang IT tapi TI yang sudah belajar IT nggak sebentar dua bentar, berani adu sama (harap di tjatat ini !!!). Ahh udah cape dengerin, saya cuma tersenyum-senyum saja kayak monyet ketemu kendang di bawah fly over perempatan Tjihampelas. Karena membayangkan yang bangun IT selama ini di universitas adalah toekang sampah ha ha ha. Nampak bahwa selama ini saya bego urusan IT, tapi sebenarnya lebih bego lagi ha ha ha, colok kabel power ke PC aja harus nyuruh orang lain. Service yang sudah dibangun selama ini bisa dikatakan nggak ada dan tidak pernah merasakan benefit nya (waduh !!!!).

Ya pesan moral di epilog ini adalah, “jangan menghilangkan hasil pekerjaan orang lain kalau Anda belum bisa melakukannya, dan hargai yang telah dilakukan jangan mengalikan dengan null”. Kemudian “jangan mendengar dari satu pihak saja karena mereka adalah pendongeng yang baik, dengarkan lah pihak yang lain” kata Phill Collins “Both Side of Story”. Kemudian saya merasa penilaian ini sudah bergeser menjadi personal dan mulai hari ini, prinsip saya adaha IDC dan tersenyum adalah ibadah (disamping pura-pura bego). Kesuksesan adalah keberhasilan menjadi orang baik, artinya tidak menyakiti pihak manapun. Jika selama ini ada orang yang tersakiti oleh saya, maka saya tidak minta dimaafkan kesalahannya namun dimaafkan dosa-nya dan diberikan enlightment untuk hari esok yang tidak tahu cerah atau hujannya.

Pindahan Server

•November 27, 2008 • Leave a Comment
Rencana mau pindahkan server dari ESX-nya Universitas ke luar. Bukan apa-apa dari sisi bandwidth uplink nggak akan ada peningkatan signifikan, lha cuma 30 hits/day belum 30hits/detik. Tapi mulai terasa atmosfirnya jadi nggak enak, misalkan ngomong menggunakan fasilitas untuk kepentingan pribadi :(

Saya rencanakan pemindahan dalam 3 tahap sebagai berikut :
Pindahkan gallery ke Flickr Pro (cuma USD 20 /tahun) akan dimulai tanggal 1 Desember 2008. Pemindahan dengan memigrasikan content pada Gallery2 akan menghabiskan waktu sekitar 2 harian.
Pemindahan website ke hosting di JP atau US pada pertengahan bulan Desember 2008.
Pemindahan DNS semuanya ke US/UE pada akhir Desember 2008.

Sekarang lagi mikirin “uang kambing” masih belum nampak juga didepan mata. Ha ha ha ha

DIY : VSWR

•November 26, 2008 • Leave a Comment

Buat sendiri VSWR; benda apakah itu VSWR ?

Voltage Standing Wave Ratio dengan bahasa sederhana rasio voltase (rms loh) dari TX dan RX sebuah perangkat RF. Waduh TX, RX dan RF, apa lagi nih. TX singkatan dari transmit, RX singkatan dari receive dan RF singkatan dari radio frequency. Oke, saya sudah pahami sedikit, lantas bagaimana VSWR hubungannya dengan peragkat RF. Kalau kata saya, nanti dianggap (sok) pinter dibidang RF, tapi kata bang Wiki :

In telecommunications, standing wave ratio (SWR) is the ratio of the amplitude of a partial standing wave at an antinode (maximum) to the amplitude at an adjacent node (minimum), in an electrical transmission line.

The SWR is usually defined as a voltage ratio called the VSWR, for voltage standing wave ratio. For example, the VSWR value 1.2:1 denotes a maximum standing wave amplitude that is 1.2 times greater than the minimum standing wave value. It is also possible to define the SWR in terms of current, resulting in the ISWR, which has the same numerical value. The power standing wave ratio (PSWR) is defined as the square of the VSWR.

Nah, udah jelaskan tentang VSWR ini. Kalau masih kurang jelas konsultasi sama bang Wiki atau langsung ke ARRL.

Dulu, jaman jadul saat masih main radio 2m-an, kalau pasang antenna, ganti kabel coaxial harus ngukur dulu VSWR-nya. Alatnya sih bikinan sendiri, maklum amatiran. Tapi kemarin saat Pak Cipto datang bawa frequency analyzer plus SWR dan teman-temanya dan ngukur antenna downpipe bikinan sendiri dengan hasil “jelek VSWR-nya 1.7″ a.k.a tidak nyampe 1 atau banyak loss. Dikirimlah antenna Hyperlink 120 deg sektoral 20dB dan 17dB, kemudian di ukur hasilnya bagus (karena bukan Hipperlink), jelas sesuai harga dollar asli.

Kepikiran buat VSWR sampai 2.5 GHz sendiri dan dapet link berikut :

Lumayan untuk start awal buat VSWR, tinggal tunggu pencairan “uang kambing” dan “uang sapi konsultan” PHKi. Kalau ada sisa buat benerin Vespa dan beli Vespa pak Yazid.

Urusan soler-menyolder dan bikin PCB nggak masalah, cuma pasti ada masalah di komponen dioda nih, biasanya mas-mas, mang-mang di toko elektronik ngomongnya “buat power supply switching yach?”

Jawab saya “heeee eeeehhhh” sambil geleng-geleng kayak orang mabok. Habis nih buat kambing nggak turun-turun, halo pak Moedjadi gimana nihhhhh.

OpenSparc dan Server Lokal

•November 25, 2008 • Leave a Comment
Susahnya kalau sudah lock-in sama vendor tertentu, terutama x86 bikin bangsa ini makin kedodoran menjadi konsumen yang sangat baik. Kenapa menjadi konsumen yang baik untuk urusan IT nggak bagus, jawabannya simple saja “US Dollar” nggak akan ada cerita turun kalau semua barang IT terutama komputer dan server serta tetek bengek aksesorisnya harus impor semua.

Saya sudah lama tahu proyek OpenSPARC, lumayan menjanjikan kalau prosesor tahan banting sekelas ini di buat opensource serta dimanfaatkan oleh pabrikan IC di Indonesia (kayaknya mampu). Pabrik IC di Bandung, dulu ada NS (National Semiconductor) dan yang di jl bypass depan PR (hhh lupa lagi namanya, dulu MR Agung “Bagor” kerja disitu) nggak mesti merumahkan karyawannya (belakangan ini kalau tidak salah). Cukup ambil desainnya di OpenSPARC kemudian kolaborasi dengan pabrikan PC Branded lokal (mis Zyrex, dan teman-teman) untuk memproduksi server/workstation berbasiskan SPARC. Sistem operasi untuk processor SPARC masih banyak beredar mulai dari keluarga BSD (OpenBSD, FreeBSD, NetBSD) dan linux juga ada, atau (open)solaris sekalian agar match dengan desain prosesor.

Pangsa pasar server SPARC ini mulai dari perusahaan Telco (kayaknya banyak pake), pendidikan, ISP, Pemerintah yang jelas semua bisa pake sampe emang-emang yang suka jaga warung. Yang jelas dari sisi biaya untuk lisensi dan teknologi processor sudah tersedia dan murah. Tapi yang mahal justru biaya marketing-nya (waduh…) musti pake model katabelece lagi ini mah ….

Kalo saya jadi Rektor, Dekan FTI atau KaJur Teknik Elektro, ahhh ketinggian. Coba saya niru iklan XL. Kalo saya bisa mbisiki Rektor, Dekan FTI atau KaJur Teknik Elektro, saya omongin pelan-pelan “you pelajari itu OpenSPARC” nggak usah seremonial “join – joinan segala”, kalau udah bisa “you ajak industri kerja sama”. Urusan pasar, temen-temen you udah banyak kan di departemen dan swasta (maklum PT udah tua), so gunakan katabelece-nya.

Cuma sayangnya saya hanya penulis di blog ini saja, ha ha ha plus beberapa episode di IT. Itu pun terhenti langkahnya saat lamaran perpanjangan Kapus IT jadi nggak jelas juntrungannya, interview untuk paparan program nggak, pemberitahuan ditolak nggak ada (cuma ada SK terimakasih ha ha ha) alias lamaran kayaknya di drop pake iptables dengan command :

#iptables -A input -s ” lamaran ddr” -d “kapus IT” -j DROP

Ahhh,….. hanya mereka disana yang tahu jawabannya. Bud, tolong pinjem kartu ATM-nya, lalu Buddy berkata “saya nggak pegang kartu ATM, dan ada di istri saya, coba ke Moel”.

Majalah Elektronik

•November 24, 2008 • Leave a Comment

Iseng-iseng buka-buka lagi buku elektronik jadi pengen tahu, perkembangannya sekarang sampai mana. Saya coba buka website-nya Elektor dan lihat-lihat dalamnya, wahh sudah terkontaminasi PC dan banyak rangkaian yang harus menggunakan PIC. Coba lagi ke epemag, hasilnya sama juga, kebanyakan PIC programming. Jadi harus buka-buka lagi programing PIC atmelnya ha ha ha.

Majalah elektronik di Indonesia yang saya tahu :

  • elex (sudah wafat)
  • elektron (anak2 HME ITB: nggak tahu kelanjutannya)

Coba surfing lagi ahhh, kali aja ada elektron-nya online.

Antara Program dan Pantat

•November 24, 2008 • 1 Comment
Program=acara atau pengacaraan kalau dilihat dari bahasa Indonesia-nya. Pemrograman komputer adalah pengacaraan komputer, jadi bingung. Memang kalau penyulihan bahasa secara kata-per kata menjadikan arti yang kadang-kadang aneh atau rancu didengarnya. Program yang saya tulis disini adalah program hibah PHKi untuk A2 dengan judul keren mentereng Digital Campus Development.

Disebut sebel, kepaksa di telan jadi dah mau muntah ditahan-tahan dan bikin mencret yang akhirnya berujung di pan***t. Kalau tulisan ini jadi omongan dibelakang atau apapun intepretasinya, saya bilang terserah dan kalau nggak benar atau merasa dirinya benar silahkan tulis sanggahan pada komentar. Nggak akan dihapus dan nggak akan diedit sedikit pun, biar belajar kalau ada tulisan dan nggak setuju bales lagi dengan tulisan, atau jadi polemik.

Cerita-nya begini, dahulu kala ketika sang putri menunggu seorang diri di atas menara untuk diselamatkan oleh seorang pangeran. Lho koq jadi HC Andersen he he he….

Episode 1

Saya sebelumnya koordinator program A2 kemudian dilengserkan menjadi ketua aktivitas A.2.1 isinya tentang SIM (yg jelas bukan surat izin mengemudi), figure out by your self apa itu SIM. kemudian ketua aktvitas A.2.2 rada hore… (am) dan A.2.3 makin gak jelas, apalagi saat kepilih jadi kajur IF.

Tiap buat revisi RIP lagi-lagi ddr+moel yg kerja untuk ketiga aktivitas itu (A21, A22, A23) dan sebenarnya “sumpah” nggak masalah buat saya asal honornya buat saya juga (fair aja, orang banyak kerja, banyak duit). Sampe laporan interim harus dibuat (sekitar minggu ke-2 Oktober2008) baru muncul assignment untuk A.2.2 ketua-nya seorang perempuan dan A.2.3 seorang laki-laki yang kedua-nya notabene adalah dosen baru. Menurut saya wajar, kalau nggak tahu mana ujung pangkalnya karena ke dua orang ini baru. Tapi ya mbok tanya-tanya lah sama koordinator program atau sama saya baik-baik kalau mau tahu. Kenyataannya baru nanya ketika ada rencana monev oleh dikti.

Episode 2

Sebelumnya Selasa awal november ada rapat direktorat, membicarakan mengenai status pengembangan oleh konsultan. Serasa ditusuk dada oleh dua pihak dan nggak bisa berkata banyak ketika ditanyakan source code dimana dan kenapa gak diberikan ke konsultan. Dalam hati saya gak bisa berkata banyak, karena menghargai perjanjian walau tanpa kertas kalau saya subkon pada konsultan tsb (dan terutama saya pikirkan 8 orang dibawah saya sebagai developer nasibnya). Saat bos bilang deal saya dengan konsultan off, lebih kaget lagi, ternyata konsultan ngomong ke bos urusan ini (tusukan pertama). Kemudian ditanyakan kenapa source code nggak dikasihkan ke konsultan karena, masih dipegang untuk dikembangkan lebih lanjut oleh anak-anak developer. Bos mengatakan itu milik univ, I said, yes that’s belong to univ, tapi kelu mau mengatakan masih dikembangkan oleh tim 8 developer tadi, bos melotot dan saya terdiam.

Urusan kedua adalah masalah website, (btw saya lengser dari Ka. PTI, lihat post sebelumnya) dikatakan oleh kalau password belum dikasihkan ke pejabat baru. sehingga belumb bisa update website-nya. Saya katakan sudah diberikan dalam bentuk file excell daftar server dan alamat IP dan password-nya. Tapi kekeuh disalahkan lagi sama bos, (tusukan ke-2). Sampai keluar statement semua password harus di setor ke bos, incase saya ketabrak dan mati (amit-amit). Dan sampe tulisan ini di buat, password root pada belum di ganti, ha ha ha dan account saya masih ada aktif, lebih ha ha ha lagi. Pertanyaannya bisa nggak ganti password.

Episode 3

Hati remuk redam, sampai butuh lima batang rokok, satu cangkir kopi dengan komposisi 2 kopi dan setengah gula. Waktu berlalu sekitar sepeminuman teh, dilanjutkan lagi rapat dengan konsultan dengan hati sudah menerima dan cukup legowo kalau kata orang jawa mah. Keluar action plan dan lain-lain, saya kemudian pulang dengan gontai dan mulai memikirkan nasib, apa sedemikian salahnya saya.

Episode 4

Jum’at pertengahan november 2008, rapat adanya monev oleh dikti dan harus menyiapkan berbagai dokumentasi. Saya ada didalam rapat tersebut dan menurut saya bukan hal yang susah menyiapkan dokumen2 tersebut. Tapi dipenghujung rapat saya mulai lagi di judge nggak memberikan aktivitas A.2.2 ke dosen incharge-nya yg baru. Mulai ngerembet lagi ke masalah password huhhh, sampai purek turun tangan dan berbicara harus lebih berkoordinasi lagi. Masalahnya siapa yg harus memulai, si ibu A.2.2 baru tahu dapet SK incharge di A.2.2 belum lama, dan itu pun tahu dari temennya. DEngan alasan ini, tetap saya ketiban disalahkan karena belum memberitahukan password (lhoh password apa lagi). Dijelaskan kalau untuk A.2.2 LMS dan Digilib tinggal buat laporan saja, dan kalau mau coba akses sudah ada. Tapi dasar sue disalahkan terus.

Tolong lah jawab kondisi yang sebenarnya dan jangan buat jawaban yang ambivalen sehingga saya disalahkan terus. Saya sudah berusaha menyelamatkan program, jangan menyelamatkan pantat masing-masing.

Episode 5
22 November 2008, orang yayasan tahu dari ibu A.2.2 dan moel menjawab “orang baru incharge” lalu selama orang itu nggak ada (sebelumnya) siapa yang ngurus A.2.2 dan A.2.3.

Epilog

Cape, mau pulang dan kalau bisa istirahat. Halo ananda larasati, ayah pulang dan beritahu bunda siapkan makan malam yang lezat yaitu “Mi Goreng” dari indomie. Ayah sudah kehabisan uang,………

LO Tools, Screencast Software

•August 23, 2008 • Leave a Comment

LO = Learning Object, saat kita berkutat dengan LMS pasti sudah sering mendengar akan istilah ini. Namanya object, maka sifat reuse-nya lebih tinggi, jadi jangan pikirkan pengembangan LO dalam satu paket matakuliah semua. Tetapi bagi bahasan dalam satu matakuliah menjadi beberapa LO.

Saya saat ini mengajar matakuliah Perencanaan dan Pengendalian Produksi, dimana pokok bahasan dalam matakuliah ini secara garis besar adalah sebagai berikut :

  • Manufacturing Planning & Controlling Framework
  • Demand Forecasting
  • Agregate Planning
  • Master Production Schedulle
  • Material Requirement Planning
  • Inventory Management : Independent (ABC analysis, EOQ, EPQ, Safety Stock, Lead Time Safety Stock ,dll)
  • Inventory Management : Dependent (mulai dari EOQ, Least Unit COst, Part Period Balancing, dll)
  • Shop Floor Control
  • Advance MPC (JIT, Lean Mfg, Synchronous Mfg,dll )

Maka di buat LO sebanyak pokok bahasan di atas sehingga matakuliah lain dapat menggunakan LO yang sama. Matakuliah yang saya ajarkan di atas beririsan sempurna dengan matakuliah Manajemen Operasi (MO) di FE dan FBM. Sehingga dosen matakuliah MO tinggal reuse LO yang dibuat dan disesuaikan kedalamannya.

Saat pengembangan LO, maka pihak yang terkait dalam pengembangannya adalah :

  • SME: Subject Matter Expert atau orang yang mengerti akan LO yang dibuat dari sisi keilmuannya.
  • DEsainer grafis/multimedia.
  • Programmer

Permasalahannya adalah apakah seorang dosen mampu membayar 2 point terakhir di atas. Saya pribadi tidak mampu, sehingga harus kreatif sendiri untuk mengembangkan LO.

Pembuatan LO dalam format :

  • Linear non interactive, dimana audience tidak bisa menskip bahasan, ini paling mudah dikembangkan.
  • Interaktif, wew programming action script pada flash.

Saya akan bahas yang pertama saja. Teknologi mempermudah semuanya, dan googling adalah alat yang tepat dalam pencarian di lautan informasi internet. Pembuatan LO yang sederhana adalah mengconvert powerpoint untuk pertemuan di kelas menjadi multimedia lengkap dengan audio-nya dengan cara melakukan recording screen menjadi file avi, swf atau flv sembari dikasing narasi.

Software yang dapat digunakan dan murah adalah sebagai berikut :

Selamat mencoba !

Squid Performance & komplain proxy

•August 22, 2008 • 1 Comment

Mahasiswa komplain kenapa FS di tutup, melanggar HAM (Hak yAng Mahasiswa) ha ha ha. Dijelaskan bahwa lebih banyak hal yang lebih menarik dan berpengetahuan selain akses FS, yang hanya untuk personal leisure. Saya bukannya anti kesenangan pribadi, tapi ini bandwidth dibayar mahal, sebesar-besarnya untuk proses pendidikan.

Tapi kan salah satu bagian dari pendidikan softskill adalah kerjasama, kolaborasi, pengembangan diri termasuk dalam penggunaan FS. Ini namanya denial on reality, atau dengan kata lain adalah atas nama.

Kemudian YM tak tutup juga termasuk semua yang bersifat web-based-nya seperti meebo.com dan teman-teman. KOmplainnya, karena dosen sibuk proyek jadi bimbingan menggunakan YM ? nggak salah tuh, bimbingan atau selingkuh. Googling coba tentang teknologi yang banyak digunakan untuk selingkuh : IM dimana salah satunya adalah YM. Stop-stop, udah jadi berburuk sangka, nggak boleh Dit berburuk sangka menurut Ajengan Boy Macklin. Ya udah maaf, saya sudah berburuk sangka.

Udahlah membahas mengenai komplain ini, langsung saja ke tujuan utama dari tulisan ini adalah kinerja server proxy dengan menggunakan SQUID. Berdasarkan suhu dari squid-cache.org yang sudah mewanti-wanti bahwa bottleneck untuk webproxy menggunakan squid adalah I/O atau bahasa awamnya adalah operasi baca tulis ke storage. Saat ini kita menggunakan 3 disk dedicated untuk cache squid
/var/squid1 36 GB SCSI
/var/squid2 80 GB IDE
/var/squid3 80 GB IDE

Setelah berjalan sekian lama dan melakukan tuning sana-sini (googling dokumentasi, milis squid-user, forum linux.or.id) kita dapatkan performance squid yang diakses pada cachemgr.cgi seperti dibawah ini :

Cache information for squid: Request Hit Ratios: 5min: 26.2%, 60min: 20.9% Byte Hit Ratios: 5min: 57.2%, 60min: 27.2% Request Memory Hit Ratios: 5min: 7.7%, 60min: 8.6% Request Disk Hit Ratios: 5min: 45.1%, 60min: 34.9%

Lumayan keren-kan TCP-HIT mencapai 34.9% artinya optimasi yang saya lakukan bisa menghemat bandwidth sebesar 34.9% dari 2Mbps Astinet Telkom. Harap para pejabat di organisasi catat bahwa saya telah melakukan efisiensi, sesuai dengan pilar pengembangan organisasi he he he.

Masalah muncul setelah baca baris berikut ini :

Median Service Times (seconds)  5 min    60 min: HTTP Requests (All):   0.37825  0.02317 Cache Misses:          0.94847  0.89858 Cache Hits:            0.01745  0.01387 Near Hits:             0.55240  0.85130

Lihat yang di bold, ini yang jadi masalahnya dengan bahasa awam seperti orang yang mau buang hajat tapi gak jadi karena satu hal. Selidik punya selidik karena I/O, yang kemungkinan pada harddisk IDE. Perlu di percepat pake perintah hdparm nih, caranya gapang saja :
googling hdparm
man hdparm
do
cross your finger

Komentarin dong, :)